Jpeg

Lima Puluh Kota (15/1).  Upacara peringatan peristiwa Situjuah 15 Januari 1949 wilayah Kodim 0306/50 Kota dilaksanakan di Lapangan Khatib Sulaiman Nagari situjuah Batur Kec. Situjuah Limo Nagari Kab. Lima Puluh Kota. Bertindak sebagai Irup pada Upacara ini adalah Brigadir Jenderal TNI Iskandar dari Kemenhan RI, sedangkan Komandan Upacara adalah Kapten Inf Pardani Wadanramil 01/Payakumbuh Kodim 0306/50 Kota.

Hadir pada upacara ini Pj. Gubernur Sumatera Barat, Muspida Plus Kab. Lima Puluh Kota, Kodim 0306/50 Kota, Polres 50 Kota, Polres Kota Payakumbuh, Yonif 131/Brs, Denzipur-2/PS, anggota PPM, FKPPI serta Instansi terkait lainnya. Setelah Upacara dilanjutkan dengan Ziarah bersama ke makam pahlawan peristiwa Situjuah.

Seperti kita ketahui, dalam salah satu mata rantai perjuangan PDRI itulah terjadi suatu peristiwa pada tanggal 15 Januari 1949, dimana puluhan orang pejuang yang terdiri dari beberapa pimpinan dan puluhan anggota pasukan Barisan Pengawal Negeri dan Kota (BPNK) tewas seketika diberondong tembakan oleh pihak penjajah Belanda. Peristiwa itu terjadi di Lurah Kincia, Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Malam sebelumnya pada 14 Januari 1949 para pejuang tersebut mengadakan rapat untuk membahas strategi dalam menghadapi agresi yang dilakukan pihak Belanda yang dikenal sebagai Agresi Militer Belanda II. Rapat itu atas instruksi Gubernur Militer Sumatera Tengah Sutan Mohammad Rasjid dan dipimpin oleh Chatib Sulaiman selaku Ketua Markas Pertahanan Rakyat Daerah. Selain itu rapat juga diikuti oleh beberapa orang pimpinan pejuang lainnya, diantaranya Arisun Sutan Alamsyah (Bupati Militer Lima Puluh Kota), Letnan Kolonel Munir Latief, Mayor Zainuddin, Kapten Tantawi, Lettu Azinar, Letda Syamsul Bahri serta 69 orang pasukan Barisan Pengawal Negeri dan Kota (BPNK).

Hasil rapat memutuskan bahwa mereka akan menyerang kota Payakumbuh yang diduduki Belanda, dan akan menduduki kota itu sambil menggelorakan semangat perlawanan gerilya rakyat untuk membuktikan pada dunia internasional bahwa Pemerintahan Republik Indonesia masih ada dan didukung rakyat yang terus melakukan perlawanan dan perjuangan. Semua itu dilakukan untuk melawan propaganda Belanda yang selalu mengatakan bahwa mereka telah menguasai Indonesia sepenuhnya setelah mereka berhasil menduduki ibu kota Republik Indonesia, Yogyakarta, serta menangkap dan mengasingkan para pemimpin Republik.

Subuh hari setelah beristirahat seusai rapat, ketika hendak melaksanakan shalat subuh tiba-tiba mereka diserang oleh pihak Belanda. Para pimpinan pejuang yang ikut menghadiri rapat tersebut beserta puluhan pejuang lainnyapun gugur seketika dikarenakan adanya penghiyanatan yang melaporkan kepada tentara Belanda bahwa ada rapat yang dilakukan oleh pemimpin peminpin bangsa untuk mempertahankan NKRI. Peristiwa yang terjadi di Lurah Kincia, Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat itu dikenang sebagai “Peristiwa Situjuah”.