Dari banyaknya organisasi memberikan bantuan pasca bencana alam, yang terlihat mungkin hanya berupa bantuan fisik, seperti bantuan makanan, penampungan, baju dan bantuan-bantuan lain yang terbilang penting. Tetapi selain itu para korban sebetulnya juga membutuhkan bantuan kesehatan mental karena trauma yang timbul dari bencana alam berskala besar. Sebagai nara sumber adalah perwakilan dinas pemberdayaan perempuan provinsi sumatera barat yang dihadiri oleh Danramil 02/Pangkalan Mayor Inf Agus Praminto, Muspika kecamatan Pangkalan, Babinsa 02/Pangkalan dan peserta kurang lebih 400 anak anak sekolah se kecamatan Pangkalan.

Maka dari itu pemerintah daerah kabupaten 50 Kota melaksanakan kegiatan trauma healing , dengan melihat banyak dari korban bencana alam yang mengalami trauma dan ketakutan yang berlebih ketika mendengar suara-suara yang menyerupai gaung, getaran, atau semacamnya. trauma healing sendiri diutamakan pada anak-anak dan lansia, yang biasanya mengalami trauma paling kuat, baik stres maupun depresi.

Trauma healing yang dilakukan secara teratur dapat membangun kembali mental para korban. Seperti program trauma healing dapat dilakukan dengan membangun kelompok bermain yang diikutkan ke dalam kelas, atau kegiatan-kegiatan bermain, belajar, membaca buku, kegiatan kesenian seperti tari, musik, dan melukis bahkan kegiatan beragama. Trauma healing yang diberikan pada anak-anak bertujuan agar mereka mampu melupakan kejadian-kejadian yang terjadi pada masa lampau, sehingga membuat mereka lebih siap apabila bencana datang kembali.

Kegiatan-kegiatan trauma healing yang diberikan pada anak-anak berbeda pada orang dewasa. Pada orang dewasa program yang lebih tepat berupa konseling. Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah pembangunan kembali wilayah, atau penempatan korban di wilayah baru. Dengan demikian ingatan tentang bencana di benak mereka bisa terhapus, dan kehidupan baru  bisa dimulai