Berburu babi hutan adalah salah satu kebudayaan unik di Kotamadya Payakumbuh, Sumatra Barat. Tradisi ini diperkirakan sudah berlangsung turun-temurun sejak abad sepuluh. Tradisi ini juga bagian dari kehidupan agraris di Sumbar.

“Dengan iven Alek Buru Babi ini maka kota Payakumbuh akan menjadi destinasi bagi para pecandu buru babi dari luar daerah yang nantinya akan meningkatkan ekonomi masyarakat terutama dalam bidang kuliner dan untuk menghibur serta bersilaturahmi dengan para peserta Alek Buru Wisata kota Payakumbuh yang datang dari berbagai pelosok daerah di Sumatera dan Jawa. Kita juga ikut melestarikan kesenian tradisional warisan nenek moyang Minangkabau.

Acara alek buru  bertempat di Kelurahan Bulakan Balai Kandih, kec Payakumbuh Barat bertempat di perbukitan ngalau indah telah dilaksanakan” Alek Buru  Payakumbuh” istilah sebutan perburuan buru babi yang datang dari berbagai daerah Sumbar Riau. Alek perburuan berburu babi yang dihadiri oleh: Walikota Payakumbuh, Dandim  0306/50 kota Letkol Kav Solikhin S.sos. m.m., Forkopinda kota payakumbuh,  ketua forbi bpk robi, satpol pp, R, Dishub dan Thomas, toda, lurah,ketua lpm, babinkabtimas.

Uniknya, yang berburu bukanlah manusia, tapi sejumlah anjing pemburu terlatih. Namun, tidak semua pemburu menggunakan semua jenis anjing. Sebagian besar hewan peliharaan mereka bukan anjing keturunan ras khusus.

Mereka bahkan memanfaatkan anjing hasil perkawinan silang. Meski bobot dan ukuran tubuhnya kecil, anjing ini lebih digemari karena gesit, lincah, dan mudah merawatnya. Nafsu menyerang binatang itu terhadap satwa lain tak jauh berbeda dengan anjing ras impor. Kendati sering dikatakan sebagai anjing kampung, keberanian binatang itu dalam berburu tidak diragukan pemiliknya.

Iklan